MENCARI ARTI
Dimanakah engkau Arti? Sudah habis kutelusuri pelosok kota ini. Namun hanya bayangmu dipelupuk mataku yang senantiasa tampak. Sementara engkau raib lenyap tiada isyarat. ‘Temui aku di kota kita pernah mengikat janji. Hidupku tak jauh dari surau, langgar ataupun masjid,’ begitu ucapmu saat kau memutuskan untuk berpisah dariku.
Terpana dengan keputusanmu aku mengiyakan. Cinta yang membakar membuatku mati rasa. Kesedihan yang amat sangat membuatku lupa bertanya mengapa engkau harus pergi. Satu pertanyaan yang dulu tak kutanyakan itu sekarang sudah bertambah menjadi ribuan pertanyaan. Dan kini setiap kali kuintip wajah-wajah dibalik kerudung putih itu-selalu bukan wajahmu yang tertangkap–setiap kali pertanyaan itu bertambah. (Sangat susah untuk menemukan alasan mengintip wajah di balik kerudung di dalam masjid untuk aku yang laki-laki.)
‘Arti namaku. Hanya Arti. Tak tahu mengapa demikian.’ Perkenalan yang aneh. Kau tiba-tiba saja ada di hadapanku memperkenalkan diri. Bahkan mengapa namamu Arti pun tak pernah aku tanyakan, apalagi aku bahas. Entah mengapa aku menerimamu begitu saja dan tak pernah bisa lagi melepaskanmu. Mirip kesadaran tiba-tiba manusia akan keberadaan waktu yang kemudian mengungkungnya. Sejak perkenalan itu, seperti katamu kemudian, pagi menjadi lebih benderang. Baca selebihnya »
PATAS
Bis patas yang kunaiki melaju kencang. Sementara gerimis yang terus mengguyur sepanjang perjalanan mulai berubah menjadi hujan kecil. Aku makin merapatkan jaket dan memperbaiki posisi dudukku. Hah! Rasanya aku ingin segera sampai dan tidur di kasur empukku. Aku tidur lagi, atau tepatnya mencoba tidur. Tapi lagi-lagi tangan itu berusaha menyentuh tanganku. Entahlah apa yang dia inginkan dari aku. Pemuda disampingku, dari awal dia duduk di sebelahku, tangannya tak henti Baca selebihnya »
-
Arsip
- April 2008 (3)
- Maret 2008 (3)
- Februari 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS