PATAS
Bis patas yang kunaiki melaju kencang. Sementara gerimis yang terus mengguyur sepanjang perjalanan mulai berubah menjadi hujan kecil. Aku makin merapatkan jaket dan memperbaiki posisi dudukku. Hah! Rasanya aku ingin segera sampai dan tidur di kasur empukku. Aku tidur lagi, atau tepatnya mencoba tidur. Tapi lagi-lagi tangan itu berusaha menyentuh tanganku. Entahlah apa yang dia inginkan dari aku. Pemuda disampingku, dari awal dia duduk di sebelahku, tangannya tak henti untuk meraih tanganku. Aku tak begitu perduli, karena rasa capek dan ngantuk lebih menguasai diriku. Iya, 5 jam perjalanan bis saat berangkat pagi tadi, lalu sekarang, 5 jam lagi perjalanan pulang. Aku baru saja dari Jember, interview di perusahaan jaringan komputer. Seminggu lalu aku memang memasukkan lamaran ke perusahaan berlevel nasional itu. Dan, dengan gembira aku penuhi panggilan mereka untuk interview, hari ini. Aku lebih memilih langsung pulang daripada harus menginap di hotel walaupun bis jurusan Malang baru ada jam 6 sore. Itu tandanya, baru jam 10 malam nanti aku sampai. Itu kalau lancar, tak ada halangan apa-apa. Sekarang hampir jam sembilan, aku menarik nafas lega. Berarti tak lama lagi aku sampai. Aku tertidur. Begitu nyaman. “Dik, namanya siapa?” Tiba-tiba terdengar suara disampingku. Aku terbangun, berusaha merapikan lagi jilbabku. Lalu menoleh ke arah pemuda disampingku. “Apa?” Tanyaku berusaha memahami maksudnya. “Nama kamu siapa? Aku boleh tahu kan?” Jelasnya lagi. “Mmm, Aliya.” Jawabku sambil menyambut uluran tangannya. “Rudi, aku Rudi.” Katanya singkat sambil tersenyum. Aku mencoba membalas senyumnya, entah apa yang terlihat. Karena aku merasa wajahku benar-benar lelah, sulit untuk tersenyum. Dia mencoba bicara lagi padaku, tentang arah tujuanku, rumahku, kehidupanku, juga tentang statusku. Aku hanya menjawab seperlunya saja. Terus terang aku tak pernah bisa berbicara banyak pada orang yang baru aku kenal. Dia memahami sepertinya. Karena setelah pertanyaan tentang statusku tidak aku jawab, dia kembali diam. Tapi tangannya kembali mencari tanganku. Aku menarik diri menjauh darinya, lebih merapat ke arah jendela. Lalu terdengar lagi suaranya. “Alya, kamu marah ya aku pegang tangan kamu? Maaf kalau aku tak sopan, aku sendiri juga nggak ngerti kenapa aku bisa begini. Kalau boleh jujur, aku ngerasa nyaman banget setelah pegang tangan kamu. Jadi lebih tenang. Apalagi setelah kamu nyandar di bahuku. Sumpah, aku seneng banget.” Katanya panjang lebar. Mendengar kalimat terakhirnya, mataku langsung terbuka. Aku nyandar di bahunya? Kapan? Atau jangan-jangan ini cuma triknya untuk jebak aku? Aduh, kok gini seh? Ramai suara batinku mencoba menebak maksud Rudi. “Aku nyandar sama kamu? Kapan?” “Tadi, pas kamu tidur, pules banget kayaknya. Capek ya?” Jelas Rudi sambil tersenyum. Aku hanya bisa malu. Entah bagaimana warna wajahku sekarang, capek, letih, lapar, ditambah malu… Waduh…!!! “Ehhmm, maaf ya kalo gitu? Aku gak sengaja. Aku bener-bener gak tahu. Maaf ya? Pintaku memelas. “Gak pa-pa kok. Kan aku udah jelasin tadi, aku malah seneng kamu nyandar sama aku.” Jawabnya sambil lagi-lagi tersenyum. Mungkin sudah menjadi hobinya bicara sambil tersenyum, beda sama aku… Aku kembali diam, dan mulai melanjutkan mimpiku lagi. Saat damai memelukku, kembali aku dibangunkan. Kali ini dia pamit padaku, karena dia harus turun disini, di Kebonagung, Pasuruan. Aku hanya mengangguk. Dia meraih tanganku, lalu menyerahkan secarik kertas kecil. Sambil berjalan menuju pintu dia katakan kalau itu adalah nomer ponselnya, dan berharap kalau perkenalan ini tidak berhenti disini saja. Aku mencoba tersenyum padanya. Lalu dia turun, menghilang diantara kerumunan penumpang lain. Aku lihat lagi kertas itu, nomer ponsel, ditambah sebaris tulisan kalau dia sangat senang mengenalku. Hahaha…entah apa yang akan aku lakukan pada kertas mungil itu. Aku salin di ponselku, atau aku buang saja? Tapi akhirnya, aku lebih memilih mengantonginya di saku jaketku. Aku tidur lagi dan baru bangun saat bis mulai berjalan pelan, tandanya sudah memasuki areal terminal. Aku berdiri, merapikan tas, jaket dan jilbabku. Segera turun karena bis mulai kosong. Saat berjalan menuju tempat angkot yang akan membawaku kerumah, aku terkejut, benar-benar terkejut. Rudi di depanku, masih dengan senyumnya. Dengan heran aku mendekatinya. Dia lalu berkata. “Aku gak yakin kamu akan menelponku, ataupun sekedar mengirim pesan. Jadi aku harus memastikan.” Hah! lagi-lagi dia tersenyum. Lama-lama aku curiga, waras nggak ya orang ini? Hehehe… “Ya tapi kan tadi katanya kamu harus sampe di Semarang besok pagi? Aku pikir kamu tadi bakal ke Bungurasih, trus langsung ke Semarang?? Lagian tadi kenapa gak naik bis yang ke Surabaya langsung?” Tanyaku bingung. “Tadi bis yang ke Surabaya udah berangkat semua, jadi aku ikut bis yang ke Malang. Makanya tadi aku turun di Pasuruan. Harusnya sih gitu, tapi aku gak pengen buang kesempatan, once in a lifetime.” Katanya. “Kesempatan? Kesempatan apa?” aku makin bingung. “Kesempatan lebih dekat sama kamu.” Singkat dia menjawab. Ponselku bergetar, ada pesan masuk, 1, 2, 3,…6 pesan baru masuk… Yah, memang sekarang baru ada sinyal di layar ponselku. Aku mulai membuka satu persatu, Rudi terus memandangku. Ternyata semua dari Alit. Aku kaget, Semua pesan itu berisi kabar kalau Alit datang ke Malang, ingin ketemu aku! Dia nekat banget, sih?! Aku lihat lagi jam dia kirim pesan itu, jam 10 pagi, dan sekarang hampir jam sebelas malam. Hih, aku gak tahu apa yang mesti aku lakukan. Tak lama ponselku bergetar lagi. Alit menelpon. Aku tanyakan apa benar dia datang ke Malang, jam berapa, trus apa yang dia lakuin setelah gak bisa hubungi aku. Aku bener-bener gak nyangka dia senekat ini. Dia hanya tertawa dan menceritakan apa yang dia lakuin di Malang tadi. Cukup lama kami berbicara, hingga aku tak sadar kalau Rudi masih di sebelahku, memandangku penuh tanya. Saat aku selesai bicara pada Alit, baru Rudi berkata. “Aku gak akan menyerah semudah itu. Yakin sama aku, Al. aku bukan pecundang yang akan mengaku kalah, gak bisa dapetin kamu. Lihat aja.” Mantap Rudi bicara, sambil menatap tajam ke arahku. Aku makin bingung. Hanya bisa meratap dalam hati…apa yang harus aku lakukan…cowok-cowok ini bikin pusing!!! Aku melangkah naik menuju angkot, tak perduli lagi pada Rudi yang masih terus mengikutiku. Bahkan sampai aku turun di gang rumahku, dia masih di belakangku, tetap dengan senyumnya itu. Aku terus melangkah, lalu berhenti untuk membeli nasi goreng. Aku inget belum makan seharian. Rudi masih dibelakangku, sementara Alit mencoba menelponku lagi… Entah apa yang akan kukatakan. Aku hanya ingin membasuh diri, makan, lalu tidur sampai fajar tiba esok pagi. Aku tak ingin memberi harapan lebih pada orang-orang ini, Alit ataupun Rudi… karena aku…gak tertarik pada laki-laki. CERITA LAINNYA DI :www.wismacinta.com
Belum ada komentar.
-
Arsip
- April 2008 (3)
- Maret 2008 (3)
- Februari 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS